Minggu, 01 Mei 2011

Tentang Pembelajaran Elektronik (E-Learning)

0 komentar
Pengertian E-learning 
E-learning berasal dari huruf ‘e’ (electronic) dan ‘learning’  (pembelajaran). Dengan demikian E-learning adalah pembelajaran yang  menggunakan jasa elektronika. Secara umum definisi E-learning adalah  pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti  Internet, intranet/extranet, satellite broadcast, audio/video tape,  interactive TV, CD-ROM, dan computer-based training (CBT) secara lebih  fleksibel demi mendukung dan meningkatkan pengajaran, pembelajaran dan  penilaian. Sedangkan secara lebih khusus E-learning didefinisikan  sebagai pemanfaatan teknologi internet untuk mendistribusikan materi  pembelajaran, sehingga siswa dapat mengakses dari mana saja.

UNESCO (2002) mendefinisikan E-learning sebagai “…learning through  available in the computers. Thus, E-learning or online learning is  always connected to a computer or having information available through  the use of computer”. Sementara dalam wikipedia.org (2009) bisa  ditemukan definisi E-learning sebagai berikut: “Electronic learning or  E-learning is a general term used to refer to computer-enhanced  learning. It is used interchangeably in so many contexts that it is  critical to be clear what one means when one speaks of 'E-learning'”.

Definisi  E-learning sangat beragam yang mungkin satu sama lain berbeda, namun  satu hal yang sama tentang E-learning atau electronic learning adalah  pembelajaran melalui jasa bantuan elektronika. Pada dasarnya E-learning  adalah pembelajaran yang merepresentasikan keseluruhan kategori  pembelajaran yang berbasis teknologi. Sementara pembelajaran online atau  juga pembelajaran berbasis web adalah bagian dari E-learning. Namun  seiring perkembangan teknologi dan terjadinya pergeseran konten dan  adaptivity, saat ini definisi klasik E-learning tersebut mengalami  perubahan menjadi definisi yang lebih kontemporer, yakni suatu  pengelolaan pembelajaran melalui media internet atau web yang meliputi  aspek-aspek materi, evaluasi, interaksi, komunikasi dan kerjasama  (Surjono, 2009).

Saat ini E-learning bahkan merupakan salah satu  alternatif untuk menyelesaikan berbagai masalah pendidikan, terlebih  setelah fasilitas yang mendukung pelaksanaan E-learning seperti  internet, komputer, listrik, telepon dan hardware dan software lainnya  tersedia dalam harga yang relatif terjangkau, maka E-learning sebagai  alat bantu pembelajaran menjadi semakin banyak diminati. Di samping itu,  istilah E-learning meliputi berbagai aplikasi dan proses seperti  computer-based learning, web-based learning, virtual classroom, dll;  sementara itu pembelajaran online adalah bagian dari pembelajaran  berbasis teknologi yang memanfaatkan sumber daya internet, intranet, dan  extranet.

Perkembangan E-learning 
Dalam wikipedia.org dikemukakan bahwa E-learning pertama kali  diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan  menggunakan pembelajaran berbasis komputer (computer-assisted  instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan  E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
  1. Tahun 1990: Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai  bermunculan aplikasi E-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun  berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun  multimedia (Video dan Audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.
  2. Tahun 1994: Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak  tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan  diproduksi secara massal.
  3. Tahun 1997: LMS (Learning Management System). Seiring dengan  perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi  dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan  cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak, dan jarak serta lokasi  bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang  makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah  interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar.  Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC  (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
  4. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web.  Perkembangan LMS menuju aplikasi E-learning berbasis Web berkembang  secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi  belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi,  majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan  multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai  pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil. 
Implementasi E-learning 
Pada dasarnya E-learning dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme  sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky, di mana belajar bagi anak  dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik, dan  berintikan interaksi antara aspek internal dan ekternal yang  penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. Lingkungan  pembelajaran konstruktivisme adalah setting pembelajaran dengan kondisi  yang secara bersamaan: 
  1. Memberikan pengalaman dalam proses  pengembangan pengetahuan; 
  2. Memberikan pengalaman dan apresiasi  terhadap berbagai perspektif; 
  3. Menanamkan pembelajaran dalam konteks  realistis dan relevan; 
  4. Mendorong kepemilikan dan suara dalam proses  belajar;
  5. Menanamkan pembelajaran dalam pengalaman sosial; 
  6. Mendorong penggunaan berbagai macam jenis representasi; dan 
  7. Mendorong kepekaan diri dalam proses pembangunan ilmu pengetahuan.

Jika  dibandingkan pembelajaran konvensional atau klasikal, keuntungan utama  yang dimiliki pembelajaran dengan sistem E-learning adalah dalam hal  fleksibilitas dan interaktifitas. Dengan E-learning materi pembelajaran  dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, selain itu materi  pembelajaran pun dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar termasuk  multimedia dan juga dapat diperbaharui dengan cepat oleh pengajar. Dari  segi interaktifitas E-learning juga memungkinkan untuk menyelenggarakan  pembelajaran secara langsung atau tidak langsung dan secara visualisasi  lengkap (multimedia) ataupun tidak.

Implementasi sistem  E-learning sangatlah bervariasi dan belum ada standar yang baku. Dari  pengamatan pada berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada,  implementasi sistem E-learning bervariasi mulai dari yang sederhana  hingga yang terpadu. Yang bersifat sederhana yakni sistem pembelajaran  yang hanya sekedar berisi kumpulan bahan pembelajaran yang disimpan di  web server dengan fasilitas komunikasi melalui e-mail atau mailing list  secara terpisah, sedangkan yang terpadu yaitu berupa portal E-learning  yang berisi berbagai obyek pembelajaran yang diperkaya dengan multimedia  dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi,  forum diskusi dan berbagai educational tools lainnya.

Dikarenakan  belum adanya pola implementasi E-learning yang baku, terbatasnya  sumberdaya manusia baik pengembang maupun staf pengajar dalam  E-learning, terbatasnya perangkat keras maupun perangkat lunak,  terbatasnya biaya dan waktu pengembangan, maka implementasi suatu  E-learning dikembangkan secara sederhana ataupun secara terpadu, atau  bahkan bisa merupakan gabungan dari keduanya. Adapun dalam proses  belajar mengajar yang sesungguhnya, terutama di negara yang koneksi  internetnya masih terbatas, pemanfaatan sistem E-learning tersebut bisa  saja digabung dengan sistem pembelajaran konvensional yang dikenal  dengan sistem blended learning atau hybrid learning.

Meskipun  implementasi sistem E-learning yang ada sekarang ini sangat bervariasi,  namun semua itu didasarkan atas suatu prinsip atau konsep bahwa  E-learning dimaksudkan sebagai upaya pendistribusian materi pembelajaran  melalui media elektronik atau internet sehingga peserta didik dapat  mengaksesnya kapan saja dari seluruh penjuru dunia. Ciri pembelajaran  dengan E-leaning adalah terciptanya lingkungan belajar yang flexible dan  distributed (Surjono, 2009).

Fleksibilitas menjadi kata kunci  dalam sistem E-learning. Peserta didik memiliki kefleksibelan dalam  memilih waktu dan tempat belajar karena mereka tidak harus datang di  suatu tempat pada waktu tertentu. Pengajar spun dapat memperbaharui  materi pembelajarannya kapan saja dan dari mana saja. Dari segi isi,  materi pembelajaran pun dapat dibuat sangat fleksibel mulai dari bahan  kuliah yang berbasis teks sampai materi pembelajaran yang sarat dengan  komponen multimedia. Begitu pula halnya dengan kualitas pembelajaran,  yang bisa sangat fleksibel atau variatif, yakni bisa lebih jelek atau  lebih baik dari sistem pembelajaran tatap muka (konvensional). Oleh  sebab itu untuk menciptakan suatu sistem E-learning yang baik diperlukan  suatu perancangan yang baik, dan strategi dan cara-cara desain  instruksional yang tepat. Sementara distributed learning merujuk pada  pembelajaran dimana pengajar, siswa, dan materi pembelajaran  terletak di lokasi yang berbeda, sehingga siswa dapat belajar kapan  saja dan dari mana saja.

Dalam merancang sistem E-learning  setidaknya perlu dipertimbangkan dua hal, yakni (1) peserta didik yang  menjadi target dan (2) hasil pembelajaran yang diharapkan. Pemahaman  atas peserta didik sangatlah penting, di mana seorang pengajar harus  mengetahui harapan dan tujuan peserta didik dalam mengikuti E-learning,  kecepatan dalam mengakses internet, biaya untuk akses internet, serta  latar belakang pengetahuan yang menyangkut kesiapan dalam mengikuti  pembelajaran secara onlline. Pemahaman atas hasil pembelajaran juga  diperlukan demi menentukan cakupan materi, kerangka penilaian hasil  belajar, serta pengetahuan awal.

Menurut Surjono (2009) sistem  E-learning dapat diimplementasikan dalam bentuk asynchronous,  synchronous, atau campuran antara keduanya. Contoh E-learning  asynchronous banyak dijumpai di internet baik yang sederhana maupun yang  terpadu melalui portal E-learning. Sedangkan dalam E-learning  synchronous, pengajar dan siswa harus berada di depan komputer secara  bersama-sama karena proses pembelajaran dilaksanakan secara live, baik  melalui video maupun audio conference. Selanjutnya dikenal pula istilah  blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bentuk  pembelajaran misalnya online, live, maupun tatap muka (konvensional).

Dalam  pengembangan E-learning setidaknya terdapat tiga model dalam  pengembangan sistem pembelajaran, yaitu web course, web centric course,  dan web enhanced course. Web course adalah penggunaan internet untuk  keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya  terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar,  diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan  pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan  kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.

Web centric  course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak  jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui  internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling  melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa  untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya.  Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs  yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak  diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet  tersebut.

Web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk  menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas.  Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara  peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok,  atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran  pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi  di internet, membimbing siswa mencari dan menemukan situs-situs  yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web  yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui  internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

Dari beberapa  sistem E-learning yang dikembangkan dan di lihat dari segi  interaktifitasnya, secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni  sistem yang bersifat statis dan yang bersifat dinamis. Pada jenis yang  statis para pengguna sistem ini hanya dapat men-download bahan-bahan  belajar yang diperlukan. Sedangkan dari sisi administrator, ia hanya  dapat mengunggah (upload) file-file materi. Pada sistem ini memang  suasana belajar yang sebenarnya tak dapat dihadirkan, misalnya jalinan  komunikasi. Sistem ini cukup berguna bagi mereka yang mampu belajar  otodidak dari sumber-sumber bacaan yang disediakan dalam sistem ini,  baik yang berformat HTML, Powerpoint, PDF, maupun yang berupa video.  Kalaupun digunakan, sistem ini berfungsi untuk menunjang aktivitas  belajar mengajar yang dilakukan secara tatap muka di kelas.

Sementara  pada jenis yang bersifat dinamis, fasilitas yang ada pada sistem ini  lebih bervariasi dari apa yang ditawarkan oleh jenis yang pertama. Di  sini, fasilitas seperti forum diskusi, chat, e-mail, alat bantu evaluasi  pembelajaran, manajemen pengguna, serta manajemen materi elektronis  sudah tersedia. Sehingga pengguna mampu belajar dalam lingkungan belajar  yang tidak jauh berbeda dengan suasana kelas. Sistem kedua ini dapat  digunakan untuk membantu proses transformasi paradigma pembelajaran dari  teacher-centered menuju student-centered. Bukan lagi pengajar yang  aktif memberikan materi atau meminta siswa bertanya mengenai sesuatu  yang belum dipahami, tetapi disini siswa dilatih untuk belajar  secara kritis dan aktif. Sistem E-learning yang dikembangkan dapat  menggunakan pendekatan metode belajar kolaboratif (collaborative  learning) maupun belajar dari proses memecahkan problem yang disodorkan  (problem-based learning).

Mengangkat kembali tulisan Tentang Pembelajaran Elektronik (E-Learning) di website saya yang sebelumnya harly-umboh.com tanggal 11 Februari 2010
wikipedia.org

Leave a Reply

 
Copyright © 2009-2015 Yayasan UMBOH

Credit to dhetemplate and SMK TI Bulukumba